08 Mei 2011

Bacaan masterpiece (2) : The catcher in the rye




Tak dipungkiri alasan saya tertarik dengan buku ini karena ada peristiwa besar dibaliknya yaitu penembakan John Lennon oleh Mark david chapman (untuk informasi selebihnya bisa dibuka di google dsb) Oleh karena peristiwa tersebut, buku ini layaknya bom yg eksplosif mendadak menjadi sebuah hit. Menjadi suatu pop culture menurut kebanyakan orang. Banyak yang terkena dampaknya, termasuk saya..

Di buku ini kita akan berkeliling menyelami proses berpikir Holden Caulfield (karakter utama)yang sebenarnya seorang yg "lurus"/ protagonist. Holden yang selalu menganggap semua orang adalah "superfisial" dan menganggap bahwa dirinya sendiri yang paling dewasa/ mature , pergolakan batin yang tak terbendung membuatnya bermasalah dalam berhubungan dengan sosial. Sempat dikeluarkan dari sekolahnya dan kabur dari rumah orang tuanya, holden tetap mencari "dirinya" yang pada akhirnya dia menyadari bahwa dirinya "sakit".


Jarang sekali saya bisa menemukan buku yang bisa menggambarkan secara gamblang dan berani tentang isi pikiran suatu karakter. Salinger dalam hal ini menurut saya cukup sukses untuk menghadirkan itu semua. Tak ada raut kecewa setelah saya membaca buku ini hingga chapter terakhir.

Tapi sekali lagi membuka pikiran lebar-lebar saat membaca buku (terlebih membaca buku-buku kontroversial seperti ini)sangatlah perlu.. :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar